Jumat, 13 Februari 2015

Unsur Dialog dalam Fiksi

Dialog dalam fiksi adalah pertukaran gagasan yang dilakukan secara verbal (terucap) antara dua atau lebih karakter di dalam cerita.
                  
Tujuan dimuatnya dialog di dalam cerita pendek atau novel:

  1. Istirahat dari narasi panjang – penulis dapat menggunakan dialog untuk menciptakan keseimbangan di antara elemen-elemen fiksi yang digunakannya.
  2. Mempercepat/memajukan plot – perhatikan bagaimana topik yang sedang didiskusikan oleh tokoh-tokoh dalam cerita benar-benar bisa mengubah jalan cerita.
  3. Meningkatkan konflik – dua tokoh yang berdebat melalui dialog bisa menciptakan konflik dan membangun tegangan pembaca.
  4. Memberi informasi – alih-alih menggunakan banyak pernyataan dalam narasi, dialog bisa digunakan sebagai alternatif untuk menjabarkan latar belakang cerita, tanpa membuat pembaca merasa bosan karena disuguhi fakta-fakta yang kering.
  5. Membangun karakter – melalui dialog, penulis bisa menyingkap karakter tokoh-tokoh dalam ceritanya: berapa usianya, seberapa pandai dia, pengalaman-pengalaman hidupnya, dst.

Hal-hal yang penting diperhatikan dalam menyusun dialog:

  1. Tanda baca.
Jangan lupa memberi tanda baca yang tepat dan gunakan sesuai proporsi.
Coba bandingkan kalimat ini:
Waktu aku dan Mungil sedang makan seekor kucing melompat ke atas meja.
dengan
Waktu aku dan Mungil sedang makan, seekor kucing melompat ke atas meja.

’Sedang makan seekor kucing’?! Kalimat-kalimat dalam narasi dan dialog bisa menjadi ambigu dan tidak enak dibaca, jika tidak disertai tanda baca yang tepat. Tapi hati-hati, jangan boros tanda baca yang tak perlu. Coba tengok:

”Tau nggak sih,, gue benci banget digelitikin!!!!! Kebayang nggak sih loe...,, kalo orang bisa mati ketawa gara-gara digelitikin???!!! Serem abiss,,, deh....!!!”

Hmm, sekali dua kali, untuk mencerminkan karakter sang tokoh, teknik di atas boleh digunakan. Menggunakannya berkali-kali dan terus menerus? Capek deh, membacanya.

  1. Atribut pengenal di belakang dialog.
Contoh atribut pengenal adalah sebagai berikut:

”Aku belum tidur,” kata Jihan.
’kata’ adalah kosakata yang paling sering digunakan dalam cerita, dan menurut Stephen King, dalam bukunya On Writing, adalah yang terbaik untuk digunakan. Bagaimanapun, ada baiknya berlatih dan memperkaya diri dengan kosakata dan teknik lain yang bisa digunakan untuk mengganti penggunaan ’kata’ di belakang dialog. Contohnya:

- menggunakan kata kerja ekspresif
”Apa maksudmu?” dia tersenyum.
”Aku nggak suka cara kamu menegurku,” Minah mendengus.
”Bukan berarti aku nggak suka sama kamu, kan?” dia tertawa.

- menggunakan kata kerja yang menerangkan isi dialog yang diikuti
”Bantu aku bikin pe-er yaa,” Lukman memohon.
”Nggak bisa, sore ini aku harus nganterin Ibu ke dokter,” tolak Risti.
”Dia dihukum lima belas tahun karena korupsi milyaran rupiah,” jelasnya.

- menggambarkan nada suara si tokoh
”Kamu nggak pernah paham seperti apa rasanya kalau jadi aku,” desis Mita.
”Perempuan sialan!” raung Joko.
”Dasar nggak becus,” gumamnya.

Tiga alternatif di atas bisa digunakan untuk mendramatisir suasana yang ingin dibangun, dengan cara yang lebih efisien. Di belakang kata kerja, bisa juga ditambahkan keterangan, seperti:

”Aku nggak mau tahu,” gumamnya dingin.

Hindari penggunaan kata ’dengan’ antara kata kerja dan kata keterangan, karena efeknya sangat membosankan. Bandingkan antara: ia tertawa dungu dengan ia tertawa dengan dungu.

Tapi, jangan boros kata keterangan, terutama yang tidak diperlukan. Misalnya: bentaknya keras-keras. Kata ’bentak’ sendiri sudah membangun citra ’keras-keras’ dalam kepala pembaca. Penggunaan keterangan di sini justru merusak kenikmatan membaca.

Kadang-kadang, penulis juga menggunakan kalimat aksi di belakang dialog. Contohnya:

”Kamar ini kotor sekali,” Jim memungut bekas bungkus kopi instan yang terserak di lantai.

Boleh-boleh saja, karena adegan yang diceritakan kemudian tampak realistis. Tapi upayakan untuk memakainya di saat yang tepat. Teknik ini bisa memperlambat cerita.

Ada pula teknik yang disebut ’As you know, Bob’, di mana penulis memasukkan dialog berisi kuliah panjang seorang tokoh mengenai sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui oleh lawan bicaranya, tetapi belum diketahui oleh pembaca. Melalui dialog ’As you know, Bob’, penulis bisa bercerita mengenai sesuatu yang mungkin tidak terlalu penting, tapi ia ingin pembacanya tahu.

Ingat! Perubahan karakter seperti ”Sekarang aku sudah berubah, lho. Aku lebih rajin belajar dan membantu ibu.” hampir  tidak mungkin diucapkan dalam dialog, karena tidak masuk akal, kecuali dalam situasi-situasi tertentu. Perubahan karakter bisa dipresentasikan melalui dialog, dengan cara menunjukkan, bukan mengatakan. Misalnya:
-          seorang tokoh yang angkuh dan keras kepala meminta maaf
-          seorang guru yang tukang mendikte tiba-tiba bertanya pada muridnya
dst.

Beberapa tips untuk mendapatkan dialog-dialog yang baik:

  1. Gunakan tanda baca dengan benar.
  2. Secara ideal, dialog adalah pertukaran gagasan. Jadi, sebisa mungkin ciptakan dialog yang memuat informasi untuk diketahui pembaca.
  3. Adalah penting untuk diingat bahwa dialog harus benar-benar seperti orang bicara. Salah satu metode terbaik yang bisa dilakukan adalah membaca keras dialog yang kita tulis. Ini membantu kita memutuskan, apakah dialog kita cukup realistis atau tidak. Sebab apa yang kita ’dengar’ dalam kepala kadang-kadang tidak sama dengan apa yang kita dengar langsung.
  4. Pancangkan di benak kita, bagaimana kita ingin tokoh dalam cerita kita digambarkan. Jika mungkin, buatlah sketsa mengenai tokoh-tokoh kita, sebagai panduan. Ini akan membantu kita untuk konsisten dengan karakter si tokoh.
  5. Merasakan betul apa yang tokoh kita rasakan ketika bicara. Biasakan diri untuk mengubah-ubah emosi, dari satu karakter ke karakter yang lain.
  6. Buatlah aksi yang sesuai dengan dialog. Kecuali dalam situasi di mana, misalnya, tokoh kita sedang menyembunyikan sesuatu.
  7. Dialek bisa menjadi alat yang kuat dalam menggambarkan ciri khas sang tokoh. Tapi gunakan secukupnya, jangan berlebihan.
  8. Banyak mendengar dan belajar. Mendengar adalah kebiasaan penting bagi penulis, untuk menghadirkan realitas ke dalam dunia benak pembacanya. Kalau kita sedang menulis cerita tentang seorang perempuan muslim yang taat, usahakan kita mengenal betul bagaimana karakter semacam ini biasa bicara. Pergilah ke tempat-tempat di mana kita bisa bertemu dengan mereka, dan dengar bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain. Kosakata apa saja yang biasa mereka gunakan? Seberapa keras dan cepat mereka bicara? Dst.
  9. Biarkan orang lain membaca dialog-dialog kita, dan mintalah komentar jujur dari mereka. Orang lain bisa menjadi kritikus yang obyektif dan berguna. Tapi hati-hati, singkirkan dulu sikap defensif, ya.
  10. Banyak berlatih! 

Tidak ada komentar: