Dialog
dalam fiksi adalah pertukaran gagasan yang dilakukan secara verbal (terucap)
antara dua atau lebih karakter di dalam cerita.
Tujuan
dimuatnya dialog di dalam cerita pendek atau novel:
- Istirahat dari narasi panjang – penulis dapat menggunakan dialog untuk menciptakan keseimbangan di
antara elemen-elemen fiksi yang digunakannya.
- Mempercepat/memajukan plot –
perhatikan bagaimana topik yang sedang didiskusikan oleh tokoh-tokoh dalam
cerita benar-benar bisa mengubah jalan cerita.
- Meningkatkan konflik –
dua tokoh yang berdebat melalui dialog bisa menciptakan konflik dan
membangun tegangan pembaca.
- Memberi informasi –
alih-alih menggunakan banyak pernyataan dalam narasi, dialog bisa
digunakan sebagai alternatif untuk menjabarkan latar belakang cerita,
tanpa membuat pembaca merasa bosan karena disuguhi fakta-fakta yang
kering.
- Membangun karakter –
melalui dialog, penulis bisa menyingkap karakter tokoh-tokoh dalam
ceritanya: berapa usianya, seberapa pandai dia, pengalaman-pengalaman
hidupnya, dst.
Hal-hal
yang penting diperhatikan dalam menyusun dialog:
- Tanda baca.
Jangan
lupa memberi tanda baca yang tepat dan gunakan sesuai proporsi.
Coba bandingkan kalimat ini:
Waktu aku dan Mungil sedang
makan seekor kucing melompat ke atas meja.
dengan
Waktu aku dan Mungil sedang
makan, seekor kucing melompat ke atas meja.
’Sedang makan seekor
kucing’?! Kalimat-kalimat dalam narasi dan dialog bisa menjadi ambigu dan tidak
enak dibaca, jika tidak disertai tanda baca yang tepat. Tapi hati-hati, jangan
boros tanda baca yang tak perlu. Coba tengok:
”Tau nggak sih,, gue benci
banget digelitikin!!!!! Kebayang nggak sih loe...,, kalo orang bisa mati ketawa
gara-gara digelitikin???!!! Serem abiss,,, deh....!!!”
Hmm, sekali dua kali, untuk
mencerminkan karakter sang tokoh, teknik di atas boleh digunakan.
Menggunakannya berkali-kali dan terus menerus? Capek deh, membacanya.
- Atribut pengenal di belakang dialog.
Contoh
atribut pengenal adalah sebagai berikut:
”Aku belum tidur,” kata
Jihan.
’kata’ adalah kosakata yang
paling sering digunakan dalam cerita, dan menurut Stephen King, dalam bukunya On Writing, adalah yang terbaik untuk
digunakan. Bagaimanapun, ada baiknya berlatih dan memperkaya diri dengan
kosakata dan teknik lain yang bisa digunakan untuk mengganti penggunaan ’kata’
di belakang dialog. Contohnya:
- menggunakan kata kerja ekspresif
”Apa maksudmu?” dia tersenyum.
”Aku nggak suka cara kamu
menegurku,” Minah mendengus.
”Bukan berarti aku nggak suka
sama kamu, kan?” dia tertawa.
- menggunakan kata kerja yang menerangkan isi dialog yang
diikuti
”Bantu aku bikin pe-er yaa,”
Lukman memohon.
”Nggak bisa, sore ini aku
harus nganterin Ibu ke dokter,” tolak Risti.
”Dia dihukum lima belas tahun
karena korupsi milyaran rupiah,” jelasnya.
- menggambarkan nada suara si tokoh
”Kamu nggak pernah paham
seperti apa rasanya kalau jadi aku,” desis Mita.
”Perempuan sialan!” raung
Joko.
”Dasar nggak becus,” gumamnya.
Tiga alternatif di atas bisa
digunakan untuk mendramatisir suasana yang ingin dibangun, dengan cara yang
lebih efisien. Di belakang kata kerja, bisa juga ditambahkan keterangan,
seperti:
”Aku nggak mau tahu,”
gumamnya dingin.
Hindari penggunaan kata
’dengan’ antara kata kerja dan kata keterangan, karena efeknya sangat
membosankan. Bandingkan antara: ia
tertawa dungu dengan ia tertawa
dengan dungu.
Tapi, jangan boros kata
keterangan, terutama yang tidak diperlukan. Misalnya: bentaknya keras-keras. Kata ’bentak’ sendiri sudah membangun citra
’keras-keras’ dalam kepala pembaca. Penggunaan keterangan di sini justru
merusak kenikmatan membaca.
Kadang-kadang, penulis juga
menggunakan kalimat aksi di belakang dialog. Contohnya:
”Kamar ini kotor sekali,” Jim
memungut bekas bungkus kopi instan yang terserak di lantai.
Boleh-boleh saja, karena
adegan yang diceritakan kemudian tampak realistis. Tapi upayakan untuk
memakainya di saat yang tepat. Teknik ini bisa memperlambat cerita.
Ada pula teknik yang disebut
’As you know, Bob’, di mana penulis memasukkan dialog berisi kuliah panjang
seorang tokoh mengenai sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui oleh lawan
bicaranya, tetapi belum diketahui oleh pembaca. Melalui dialog ’As you know,
Bob’, penulis bisa bercerita mengenai sesuatu yang mungkin tidak terlalu
penting, tapi ia ingin pembacanya tahu.
Ingat! Perubahan karakter seperti ”Sekarang aku sudah berubah,
lho. Aku lebih rajin belajar dan membantu ibu.” hampir tidak mungkin diucapkan dalam dialog, karena
tidak masuk akal, kecuali dalam situasi-situasi tertentu. Perubahan karakter
bisa dipresentasikan melalui dialog, dengan cara menunjukkan, bukan mengatakan.
Misalnya:
-
seorang tokoh yang angkuh dan keras kepala meminta maaf
-
seorang guru yang tukang mendikte tiba-tiba bertanya pada
muridnya
dst.
Beberapa
tips untuk mendapatkan dialog-dialog yang baik:
- Gunakan tanda baca dengan benar.
- Secara ideal, dialog adalah pertukaran gagasan. Jadi, sebisa mungkin
ciptakan dialog yang memuat informasi untuk diketahui pembaca.
- Adalah penting untuk diingat bahwa dialog harus benar-benar seperti
orang bicara. Salah satu metode terbaik yang bisa dilakukan adalah
membaca keras dialog yang kita tulis. Ini membantu kita memutuskan, apakah
dialog kita cukup realistis atau tidak. Sebab apa yang kita ’dengar’ dalam
kepala kadang-kadang tidak sama dengan apa yang kita dengar langsung.
- Pancangkan di benak kita, bagaimana kita ingin tokoh dalam cerita kita
digambarkan. Jika mungkin, buatlah sketsa mengenai tokoh-tokoh kita,
sebagai panduan. Ini akan membantu kita untuk konsisten dengan karakter si
tokoh.
- Merasakan betul apa yang tokoh kita rasakan ketika bicara. Biasakan
diri untuk mengubah-ubah emosi, dari satu karakter ke karakter yang lain.
- Buatlah aksi yang sesuai dengan dialog. Kecuali dalam situasi di mana,
misalnya, tokoh kita sedang menyembunyikan sesuatu.
- Dialek bisa menjadi alat yang kuat dalam menggambarkan ciri khas sang
tokoh. Tapi gunakan secukupnya, jangan berlebihan.
- Banyak mendengar dan belajar. Mendengar adalah kebiasaan penting bagi
penulis, untuk menghadirkan realitas ke dalam dunia benak pembacanya.
Kalau kita sedang menulis cerita tentang seorang perempuan muslim yang
taat, usahakan kita mengenal betul bagaimana karakter semacam ini biasa
bicara. Pergilah ke tempat-tempat di mana kita bisa bertemu dengan mereka,
dan dengar bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain. Kosakata apa
saja yang biasa mereka gunakan? Seberapa keras dan cepat mereka bicara?
Dst.
- Biarkan orang lain membaca dialog-dialog kita, dan mintalah komentar
jujur dari mereka. Orang lain bisa menjadi kritikus yang obyektif dan berguna.
Tapi hati-hati, singkirkan dulu sikap defensif, ya.
- Banyak berlatih!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar