Pada Artikel yang saya buat ini, saya akan
membahas tentang dampak buruk media massa yang khususnya Televisi yang berada
di Indonesia ini. Apa saja dampak dan fungsi negative yang ditimbulkan siaran
Televisi Indonesia ke masyarakat dan anak-anak kecil di Indonesia. Saya
mengambil judul dan pembahasan tentang dampak buruk acara Televisi karena
ahir-ahir ini saya semakin sering melihat acara Televisi yang tidak mendidik
terutama bagi anak-anak kecil Indonesia.
Siaran
Televisi Mengandung Fungsi Mempengaruhi dan Membius :
Fungsi mempengaruhi dari media massa secara
implisit terdapat pada tajuk/editorial, features, iklan, artikel, dan sebagainya.
Khalayak dapat terpengaruh oleh iklan-iklan ataupun Sinetron yg ditayangkan di
televisi, seperti contoh berikut :
Seorang anak desa yang berumur 12 tahun yang setiap harinya berpakaian
selayaknya anak seumuranya dan di keluarganya tidak memiliki televisi. Apa yang
terjadi setelah keluarga anak tersebut memiliki televisi dan sering melihat
Sinetron/acara tv yang melibatkan kehidupan anak muda yang berpakaian dengan
style baru yang digunakan oleh model dalam acara tersebut. Kebiasaan anak desa
yang sudah berlangsung sejak dulu, lama kelamaan akan berubah mengikuti cara
berpakaian si idolanya di acara tersebut, dari yang dulunya berpakaian
biasa-biasa saja sekarang menjadi menggunakan celana yang serba di aneh-anehkan
untuk kesekolah seperti yg idolanya kenakan yang tidak sewajarnya anak
seumuranya berpakaian seperti itu.
Fungsi membius sendiri berarti bahwa apabila
media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima percaya bahwa tindakan
tertentu harus diambil. Sebagai akibatnya, pemirsa atau penerima terbius
kedalam keadaan pasif, seakan-akan berada dalam pengaruh narkotik (DeVito,
1996).
Misalnya, televisi telah menayangkan tentang
kematian tragis Putri Diana. Media membuat tayangan sedemikian rupa sehingga
pemirsa seolah-olah terbius oleh tayangan tersebut. Seluruh masyarakat dunia
tercurah perhatiannya pada peristiwa prosesi pemakaman Putri Diana. Suasana
begitu terharu dan mencekam. Suasana tersebut sangar berpengaruh terhadap pola
perilaku kehidupan masyarakat dunia.
( Komunikasi Massa Suatu Pengantar edisi
revisi, Drs.Elvinaro Ardianto, M.Si, 2007 )
Sebagai
Pelajaran Baru Tindak Kekerasan dan Dorongan Perbuatan Agresi :
Pada sebuah Studinya pada tahun 1963 Bandura
dan Ross telah menunjukan dalam serangkaian penelitian awal bahwa anak-anak
belajar tindakan-tindakan yang angresif dan kompleks yang baru benar-benar
melalui pengamatan terhadap tindakan yang ditampilkan oleh seorang
model/idolanya pada sebuah acara. Banyak anak yang bukan hanya meniru tindakan-tindakan
fisik/agresif, melaikan juga tindakan verbal yang dilakukan oleh
model/idolanya.
Sebagai contoh adalah kasus anak kecil yang
memukul temannya hingga patah tulang dan pendarahan karena anak itu sering
melihat tayangan “Smack Down” di televisi , secara tidak sadar mereka melakukan
itu karena mereka menganggap adegan itu terlihat keren saat diperagakan oleh
idolanya.
Televisi juga bias menjadi salah satu
dorongan perbuatan agresi, teori pembelajaran social dan akal sehat menyatakan
bahwa kita tidak benar-benar menampilkan sesuatu yang kita pelajari dari
peniruan. Penampilan perilaku akibat belajar itu tergantung pada banyak factor:
keterampilan motorik dari orang yang belajar, peluang untuk menampilkan
tindakan itu, dan motivasi. Perhatian utama kita dalam bahasan ini adalah
motivasi. Agresi dalam kehidupan sesungguhnya tidak sam dengan agresi atau
kekerasan yang meyakinkan di televisi. Norma-norma social, rasa takut terhadap
hukuman, dan kecemasan yang biasanya berkaitan dengan kekerasan melarang kita
untuk bertindak agresif. Jadi, secara normal kita mempunyai motivasi yang kecil
untuk menjadi pelaku kekerasan. Ketika larang-larangan ini tidak ada, maka
besar kemungkinan tindakan agresi yang dipelajari akan dilakukan. Dorongan
terjadi dengan adanya penguatan untuk tindakan kekerasan itu. Oleh karena itu,
penguatan akan mempermudah agresi ini. Penguatan agresi dapat terjadi karena
individu mengamati seorang model/idolanya.
( Sosiologi Komunikasi Massa, Heru Puji
Winarso, 2005 )
Dampak
Film Fantasy :
Film-film fantasy yang ditayangkan televisi
ternyata dampaknya tidak dapat dianggap enteng terhadap kejiwaan seorang anak.
Film se[erto Batman, Flash, Superman, Wonder Woman, dan Hulk ternyata membuat
ingatan dan figure idola anak beralih kepada tokoh luar negeri ketimbang
superhero dalam negeri seperti Gatut Koco. Hal ini sebenarnya tidak perlu di
khawatirka jika para sineas Indonesia juga mau menciptakan tokoh superhero yang
tidak kalah bagus dan heabtnya dengan film superhero asing diatas.
Rasa berpijak di negeri asing serta
meninggalkan budaya sendiri secara tidak sadar telah menggerogoti mental dan
kejiwaan khususnya anak Indonesia. Kalau ini dibiarkan terus pada akhirnya
nanti akan mencapai titik krusial pola identitas serta perilaku anak terhadap
lingkungan Indonesia akan menjadi bias.
Pengaruh lain di luar kejiwaan adalah pola
perilaku yang sudah mulai membudaya dalam diri si anak tanpa disadari oleh
kedua orang tua maupun anak itu sendiri, salah satu contohnya adalah rasa malas
untuk membaca buku pelajaran, mereka lebih cenderung memilih menonton televisi
dengan film-film fantasi ketimbang membaca buku pelajaran untuk kepentingan
dirinya. Unsur pendidikan akhlak sama sekali tidak ada dalam film fantasi.
Justru pendidikan akhlak versi dunia Timur seperti Negara kita adalah sopan
santun, menghormati, serta memecahkan masalah bukan dengan pembunuhan seperti
film diatas.
( Komunikasi Massa Sebuah Analisi Media
Televisi, Drs. Wawan Kuswandi, 1996 )
KESIMPULAN :
Menurut
saya kesimpulan akhirnya adalah bahwa unsure pendidikan televisi menjadi lebih
kecil bahkan akan terhapus sama sekali dengan unsur hiburan yang secara
bertubi-tubi menyusup masuk kedalam kepribadian anak kecil khususnya. Tentunya
kita semua tidak ingin itu terjadi. Karena inilah kita semua harus mawas diri
terhadap perkembangan teknologi yang dating ke negeri kita secara cepat.
Sebagai orang tua yang sudah memiliki anak seharusnya Beliau membatasi tontonan
yang ditonton anaknya, dan sebagai orang yang sudah dianggap dewasa kita jangan
langsung mempercayai semua yang ditayangkan di televisi, ada baiknya kita
mencari informasi terlebih dahulu tentang kebenaran informasi siaran tersebut
dan juga kita harus membatasi waktu kita saat menonton televisi, jangan sampai
kita terbius dan menjadi generasi yang bodoh karena terlalu banyak menonton
televisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar