Minggu, 19 April 2015

“Dampak Negatif karena Acara TV yang Tidak Mendidik”



Pada Artikel yang saya buat ini, saya akan membahas tentang dampak buruk media massa yang khususnya Televisi yang berada di Indonesia ini. Apa saja dampak dan fungsi negative yang ditimbulkan siaran Televisi Indonesia ke masyarakat dan anak-anak kecil di Indonesia. Saya mengambil judul dan pembahasan tentang dampak buruk acara Televisi karena ahir-ahir ini saya semakin sering melihat acara Televisi yang tidak mendidik terutama bagi anak-anak kecil Indonesia.




Siaran Televisi Mengandung Fungsi Mempengaruhi dan Membius :

Fungsi mempengaruhi dari media massa secara implisit terdapat pada tajuk/editorial, features, iklan, artikel, dan sebagainya. Khalayak dapat terpengaruh oleh iklan-iklan ataupun Sinetron yg ditayangkan di televisi, seperti contoh berikut :                                                 Seorang anak desa yang berumur 12 tahun yang setiap harinya berpakaian selayaknya anak seumuranya dan di keluarganya tidak memiliki televisi. Apa yang terjadi setelah keluarga anak tersebut memiliki televisi dan sering melihat Sinetron/acara tv yang melibatkan kehidupan anak muda yang berpakaian dengan style baru yang digunakan oleh model dalam acara tersebut. Kebiasaan anak desa yang sudah berlangsung sejak dulu, lama kelamaan akan berubah mengikuti cara berpakaian si idolanya di acara tersebut, dari yang dulunya berpakaian biasa-biasa saja sekarang menjadi menggunakan celana yang serba di aneh-anehkan untuk kesekolah seperti yg idolanya kenakan yang tidak sewajarnya anak seumuranya berpakaian seperti itu.

Fungsi membius sendiri berarti bahwa apabila media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima percaya bahwa tindakan tertentu harus diambil. Sebagai akibatnya, pemirsa atau penerima terbius kedalam keadaan pasif, seakan-akan berada dalam pengaruh narkotik (DeVito, 1996).
Misalnya, televisi telah menayangkan tentang kematian tragis Putri Diana. Media membuat tayangan sedemikian rupa sehingga pemirsa seolah-olah terbius oleh tayangan tersebut. Seluruh masyarakat dunia tercurah perhatiannya pada peristiwa prosesi pemakaman Putri Diana. Suasana begitu terharu dan mencekam. Suasana tersebut sangar berpengaruh terhadap pola perilaku kehidupan masyarakat dunia.
( Komunikasi Massa Suatu Pengantar edisi revisi, Drs.Elvinaro Ardianto, M.Si, 2007 )



Sebagai Pelajaran Baru Tindak Kekerasan dan Dorongan Perbuatan Agresi :

Pada sebuah Studinya pada tahun 1963 Bandura dan Ross telah menunjukan dalam serangkaian penelitian awal bahwa anak-anak belajar tindakan-tindakan yang angresif dan kompleks yang baru benar-benar melalui pengamatan terhadap tindakan yang ditampilkan oleh seorang model/idolanya pada sebuah acara. Banyak anak yang bukan hanya meniru tindakan-tindakan fisik/agresif, melaikan juga tindakan verbal yang dilakukan oleh model/idolanya.
Sebagai contoh adalah kasus anak kecil yang memukul temannya hingga patah tulang dan pendarahan karena anak itu sering melihat tayangan “Smack Down” di televisi , secara tidak sadar mereka melakukan itu karena mereka menganggap adegan itu terlihat keren saat diperagakan oleh idolanya.
Televisi juga bias menjadi salah satu dorongan perbuatan agresi, teori pembelajaran social dan akal sehat menyatakan bahwa kita tidak benar-benar menampilkan sesuatu yang kita pelajari dari peniruan. Penampilan perilaku akibat belajar itu tergantung pada banyak factor: keterampilan motorik dari orang yang belajar, peluang untuk menampilkan tindakan itu, dan motivasi. Perhatian utama kita dalam bahasan ini adalah motivasi. Agresi dalam kehidupan sesungguhnya tidak sam dengan agresi atau kekerasan yang meyakinkan di televisi. Norma-norma social, rasa takut terhadap hukuman, dan kecemasan yang biasanya berkaitan dengan kekerasan melarang kita untuk bertindak agresif. Jadi, secara normal kita mempunyai motivasi yang kecil untuk menjadi pelaku kekerasan. Ketika larang-larangan ini tidak ada, maka besar kemungkinan tindakan agresi yang dipelajari akan dilakukan. Dorongan terjadi dengan adanya penguatan untuk tindakan kekerasan itu. Oleh karena itu, penguatan akan mempermudah agresi ini. Penguatan agresi dapat terjadi karena individu mengamati seorang model/idolanya.
( Sosiologi Komunikasi Massa, Heru Puji Winarso, 2005 )


Dampak Film Fantasy :

Film-film fantasy yang ditayangkan televisi ternyata dampaknya tidak dapat dianggap enteng terhadap kejiwaan seorang anak. Film se[erto Batman, Flash, Superman, Wonder Woman, dan Hulk ternyata membuat ingatan dan figure idola anak beralih kepada tokoh luar negeri ketimbang superhero dalam negeri seperti Gatut Koco. Hal ini sebenarnya tidak perlu di khawatirka jika para sineas Indonesia juga mau menciptakan tokoh superhero yang tidak kalah bagus dan heabtnya dengan film superhero asing diatas.
Rasa berpijak di negeri asing serta meninggalkan budaya sendiri secara tidak sadar telah menggerogoti mental dan kejiwaan khususnya anak Indonesia. Kalau ini dibiarkan terus pada akhirnya nanti akan mencapai titik krusial pola identitas serta perilaku anak terhadap lingkungan Indonesia akan menjadi bias.
Pengaruh lain di luar kejiwaan adalah pola perilaku yang sudah mulai membudaya dalam diri si anak tanpa disadari oleh kedua orang tua maupun anak itu sendiri, salah satu contohnya adalah rasa malas untuk membaca buku pelajaran, mereka lebih cenderung memilih menonton televisi dengan film-film fantasi ketimbang membaca buku pelajaran untuk kepentingan dirinya. Unsur pendidikan akhlak sama sekali tidak ada dalam film fantasi. Justru pendidikan akhlak versi dunia Timur seperti Negara kita adalah sopan santun, menghormati, serta memecahkan masalah bukan dengan pembunuhan seperti film diatas.
( Komunikasi Massa Sebuah Analisi Media Televisi, Drs. Wawan Kuswandi, 1996 )
KESIMPULAN :
Menurut saya kesimpulan akhirnya adalah bahwa unsure pendidikan televisi menjadi lebih kecil bahkan akan terhapus sama sekali dengan unsur hiburan yang secara bertubi-tubi menyusup masuk kedalam kepribadian anak kecil khususnya. Tentunya kita semua tidak ingin itu terjadi. Karena inilah kita semua harus mawas diri terhadap perkembangan teknologi yang dating ke negeri kita secara cepat. Sebagai orang tua yang sudah memiliki anak seharusnya Beliau membatasi tontonan yang ditonton anaknya, dan sebagai orang yang sudah dianggap dewasa kita jangan langsung mempercayai semua yang ditayangkan di televisi, ada baiknya kita mencari informasi terlebih dahulu tentang kebenaran informasi siaran tersebut dan juga kita harus membatasi waktu kita saat menonton televisi, jangan sampai kita terbius dan menjadi generasi yang bodoh karena terlalu banyak menonton televisi.



Tidak ada komentar: